Ikhwah Share

Thursday, June 15, 2006

Mengendalikan Cinta


Pernahkah Anda merasa bahwa apa yang sedang Anda lakukan itu salah tapi masih juga dilakukan? Pendeknya, sudah tahu keliru tapi terus saja maju.
Itulah yang dialami seorang teman saya. Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!
Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.

****

Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.
“Jihad…!!!” teriaknya tanpa sadar.
Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”
Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.
Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.
Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).

****

“Jadi… tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.
Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24 jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.
Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’an dan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).
Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah…
Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.

DIMANA TEMPAT SEMBUNYI YANG AMAN?

Tahukah kita, adakah suatu tempat yang paling aman untuk
bersembunyi? Dimana tempat itu? Aman bagi seseorang, apakah juga aman
bagi orang yang lain? Dari intaian siapa, kita bisa menyembunyikan
diri?

Inilah sebuah cerita yang cukup menarik, lucu, dan mengandung
pelajaran bagi kita semua. Saya punya seorang famili, yang cukup lucu
dan menarik kalau ia lagi bercerita tentang pengalamannya.

Cara ia bercerita menyebabkan yang mendengarkannya menjadi begitu
tertarik. Ibarat mau pergi menjadi terduduk lagi untuk mendengarkan
kisahnya.

Ketika bulan puasa datang, pada umumnya sebagai hamba Allah yang
taat beribadah, orang-orang akan ramai menyambutnya dengan gembira.
Tetapi ada juga sekelompok orang yang menjadi repot dan menjadi susah
jika ramadhan tiba. Apalagi jika ia berada di lingkungan keluarga
muslim yang taat. Atau bertetangga dengan orang-orang alim. Atau
berada di lingkungan yang kental dengan suasana religius.

Seorang yang `setengah-setengah' Ia akan serba susah dengan
datangnya bulan ramadhan. Mau puasa takut kelaparan, tidak puasa malu
dengan tetangga. Maka setiap datangnya bulan puasa menjadi
sebuah 'malapetaka' bagi orang-orang seperti dia. Tidak terkecuali
dengan pak 'NR' yang pada saat mudanya ia punya pengalaman menarik.
Tentang hal itu.

Ceritanya, terjadi di hari ketiga bulan puasa. Hari itu, pak NR,
sejak pagi sudah berpuasa dengan `gagah'. Tetapi begitu hari sudah
mulai siang, perutnya sudah mulai berbunyi. Ditahan-tahannya rasa
lapar itu sekuat-kuatnya, dan iapun berhasil menjalankan puasa sampai
dengan jam 15.00

Tetapi jam berikutnya, ia sudah mulai gelisah. Ingin rasanya
berbuka tetapi malu dengan seisi rumah yang semuanya ternyata juga
berpuasa.

Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya pak NR diam-diam pergi
keluar rumah untuk berbuka dengan cara sembunyi di tempat yang paling
aman, yang dirasa tidak akan ada orang yang mengetahuinya.

Maka dipilihnyalah sebuah restoran non muslim. Yang jaraknya dari
rumah cukup jauh. Sehingga tidak mungkin ada tetangga atau teman yang
melihatnya. Apalagi restoran non muslim, pasti akan aman dari
pantauan orang muslim, yang sedang berpuasa.

Maka setelah sampai di depan restoran tersebut pak NR berindap-
indap masuk ke dalam. Di dalam restoran itu ternyata sudah cukup
banyak orang yang lagi makan. Tentu dengan menu khususnya masing-
masing. Akhirnya pak NR mengambil duduk di tempat yang paling sudut,
yang di sebelahnya terdapat papan kayu pembatas kursi.

Selanjutnya pak NR memesan makanan yang sesuai dengan seleranya.
Karena pengunjung cukup banyak, maka makanan yang dipesannya begitu
lama sekali baru selesai dibuat oleh juru masaknya.

Hampir satu jam pak NR menunggu selesainya pesanan yang telah
dipilihnya itu. Sehingga setelah waktu sudah menunjukkan pukul 16.00
lebih barulah makanan yang dipesan itu selesai dibuat.

Maka meskipun agak sedikit kecewa karena menunggunya terlalu lama,
bahkan waktu maghrib pun sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi.
Karena sudah kepalang basah, dimakannya juga pesanan itu. Dan pak NR
pun 'berbuka' puasa pada waktu yang sudah hampir maghrib.

Setelah selesai makan dengan perasaan yang tidak karuan, sehingga
rasa makanannya pun menjadi tidak enak lagi. Pak NR kembali berindap-
indap menuju ke kasir untuk membayar makanan. Takut-takut kalau ia
sampai ketahuan oleh orang yang dikenalnya.

Ketika pak NR menuju ke tempat kasir itulah, ada seseorang yang
juga berdiri dari tempat duduknya yang berbatas dinding kayu
dengannya, orang itu juga berindap-indap menuju tempat kasir untuk
membayar makanan yang telah selesai di santapnya.

Apa yang terjadi? Ternyata dengan begitu kagetnya, orang tersebut
menyapa lebih dulu kepada pak NR. Lho koq mas NR di sini? Lagi apa
mas? kata orang itu sambil menutupi mulutnya yang masih ada sedikit
bekas makanan.

Sahut pak NR : Lho kok pak MS juga disini? Lagi beli makanan buat
buka pak? Jawab pak MS, i iya mas...!. Mari ya... saya duluan !sambil
pak MS cepat-cepat pergi meninggalkan pak NR, yang sedang kaget dan
juga bengong sembari membayar makanan )..

Wah...wah..seru sekali pokoknya. Pingin makan di tempat yang
tersembunyi, ehh,...nggak taunya juga ada orang yang bersembunyi.
Bahkan duduk bersebelahan dengan saya. Eh eh,..lha kok ternyata, la
adalah tetangga depan rumah yang sehari-harinya berpenampilan muslim
sejati. Wah,... wah, saya malu sekali. Wah, tentu dia lebih malu
lagi, ya. He he he. Wah, sungguh sulit ya, mencari tempat yang
tersembunyi itu?! Kata pak NR, sambil menutup kisahnya yang
diceritakannya kepada saya.

Apa yang kita dapatkan dari peristiwa yang cukup unik dan konyol
itu?

Benar kata pak NR, ternyata tidak ada tempat yang tersembunyi
Kalau Allah menghendaki, dimanapun saja kita sembunyi akan bertemu
dengan sesuatu yang kita hindari.
Pak NR sembunyi, pak MS juga sembunyi dari penglihatan orang lain,
ternyata keduanya saling mengetahui keadaan masing-masing yang
berbuka puasa sebelum waktunya.

Uniknya, keduanya bersembunyi, tetapi ternyata mereka duduk
bersebelahan yang hanya dihalangi oleh dinding kayu sebagai pembatas
kursi.

Kita mungkin juga baru menyadari bahwa, dunia ini begitu kecilnya,
dimanakah lagi kita mau sembunyi? Semua telah nyata bagi Allah Swt.
Kemana saja kita berlari, disitulah Allah mengetahui.

Semoga pak NR ikhlas, bahwa kisah uniknya telah tertulis dalam
diskusi ini. Dengan harapan akan ditemuinya berapa hikmah yang insya
Allah akan mempunyai manfaat di kemudian hari...

CARA ALLAH MEMBERI REZEKI

Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan
sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang
mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar
dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup
menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu,
tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak,
is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi
selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya
dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri
dan seorang anak kecilnya.

Suatu hari yang "naas" ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh
gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (
Empat puluh ribu rupiah ). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan
rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri
tercintanya.

Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia
ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah
gaji yang mempunyai nilai "historis" tinggi.

Setelah sampai dirumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang
berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya
alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu.
Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan
mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah "mengijinkan"
peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya
tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga
tercinta.

Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji
tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan
untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi
pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa
berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini
harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati
terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya
hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi....?"

Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau
dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika
sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya
tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun
dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba
mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat
berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa
surat penting lainnya.

Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut
ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya:
biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia
berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong
agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

Apa yang dilakukan hari-hari berlkutnya? Setiap hari ia membaca
surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang.
Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah
terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-
olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan
cara "mengijinkan" seseorang untuk mengambil dompetnya...

Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar
setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada
disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu
kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan
menyanggahnya.

Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang
hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang
sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas
tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang
lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis.
Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan
perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan
tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat
lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang,
bila sabar menerimanya. Allah "meminjam" 1 bagian, dan kini
dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini,
ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali
lipat dibanding uang yang hilang dulu.

Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi
di hari "naas" itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan
menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi....wallahu'alam.

Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai,
dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami
kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala
dan situasinya yang berbeda.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti
kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita
sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila
seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat
besar yang tiada tersangka sebelumnya.

Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan
peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim
merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak
ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang...

Berhenti Berarti Kalah!

“Kadang ke Kufah, kadang ke Bashrah, kadang ke Hijaz, dan kadang ke Yaman. Sampai kapan?”

“Bersama mihbarah (wadah tinta) sampai ke maqbarah (kuburan),” jawab Imam Ahmad bin Hanbal saat ditanya tentang kegigihannya dalam menuntut ilmu.

***

Setelah membaca buku Riwayat Sembilan Imam Fikih, aku berkata dalam hati, bahwa aku adalah orang besar. Dan kebesaranku dimulai dari apa yang telah kutulis selama ini. Tulisan-tulisanku merupakan bentuk lain dari perasaan, kemarahan dan kebencianku akan suatu hal.

Aku berpikir bahwa aku adalah orang besar yang kelak akan memikul amanah dakwah dan ummah. Tapi tiba-tiba hati kecilku bertanya, “Perangkat-perangkat apa saja yang telah engkau miliki dan jalan apa saja yang telah engkau tempuh untuk mendapatkannya?” Aku menjawab, “Aku belum punya apa-apa selain keinginanku yang menggebu-gebu.” Hati kecilku kembali berkata, “Aku tahu itu, tetapi itu belumlah cukup. Keinginan itu harus diiringi dengan pelaksanaan yang baik dan konsisten. Engkau harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah, atau engkau tidak akan pernah mencapainya. Selama ini aku perhatikan engkau tidak menjalankannya dengan teguh. Engkau lemah oleh bujuk rayu setan dan kemudian menjerumuskanmu pada pelbagai bentuk kemaksiatan. Walaupun pada akhirnya engkau mengakui kesalahanmu itu. Engkau harus kuat. Engkau harus sabar. Bergaullah dengan orang-orang yang shalih karena mereka akan menjaga dan membimbingmu. Takutlah akan azab-Nya yang pedih dikala engkau seorang diri. Tutuplah rapat-rapat mulutmu dari perkataan dusta. Pergunakanlah harta bendamu untuk tujuan yang mulia. Jauhilah sumber-sumber fitnah. Banyaklah menuntut ilmu dan merenungkannya. Tepati janji yang pernah engkau ucapkan. Dan rajin-rajinlah mendekatkan diri kepada Allah.”

Nasihat yang baik. Hati kecilku berkata benar karena ia tak pernah berdusta. Menjadi orang besar bukan perkara mudah, pikirku. Menjadi orang besar berarti mempertaruhkan seluruh kehidupan untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Ini tentu saja akan menyedot dan menguras seluruh energi, pikiran, tenaga, dan waktu. Aku pikir, betapa hebat dan mulianya orang-orang besar itu karena mereka telah menang dan kembali dengan jiwa yang tenang. Benarlah apa yang dikatakan seorang ulama, janganlah engkau hanya melihat kesuksesan seseorang, tetapi lihatlah proses mereka meraih kesuksesan itu.

Dari sembilan imam fikih yang kubaca sejarahnya, tak satupun yang tidak pernah mendapat ujian dan cobaan; dipenjara, diasingkan dan disiksa. Bahkan Imam Zaid bin Ali dibunuh dan mayatnya disalib di tempat umum. Untuk menjadi orang besar, mereka harus mempertaruhkan apa yang mereka punya termasuk diri mereka sendiri. Mereka tidak terikat pada suatu apa pun kecuali hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada perkataan mereka tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, mereka menyuruh kita agar meninggalkannya. Mereka tidak merasa malu mengatakan “saya tidak tahu”, sekalipun ilmu mereka luas dan kepakaran mereka tak tertandingi. Sejak kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hati menjadi peka terhadap problematika umat. Tidak heran jika mereka mampu menghafal al-Quran sejak usia 10 tahun, 9 tahun, atau bahkan kurang dari itu. Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, di usia yang kepala dua, tiga, atau bahkan lebih dari itu, kita belum mampu menghafalnya dengan sempurna. Pada usia dini pula, mereka telah mampu menghafal hadits dan buku-buku karangan guru mereka. Semangat dan etos kerja yang telah tertanam sejak kecil, ditambah dengan lingkungan yang kondusif (lingkungan para alimin dan shalihin), setahap demi setahap cita-cita mereka raih.

Namun, bagi kita, perjuangan belum terlambat untuk terus kita kumandangkan. Dengan segala apa yang ada pada diri kita dan dengan semangat yang kita kobarkan dan dengan amal yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, demi Allah, semua itu tidaklah sia-sia. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan kemalasan ini. Kita harus raih kemuliaan sebelum ajal datang menjemput. Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika tersohor dan penemu ilmu aljabar, ternyata baru belajar matematika ketika berusia 24 tahun. Sebelumnya dia adalah pemuda pengangguran yang senang bermain musik. Tapi dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kesia-siaan dan kelalaian. Kemudian dia beralih dan mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih bermanfaat. Usia bukanlah penghalang untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Kelak beliau dikenal sebagai sosok yang menguasai banyak ilmu pengetahuan mulai dari fisika, kimia, astronomi, filsafat, matematika, dan tentu saja pandai memainkan alat musik.

Imam Bukhari biasa bangun dari tidur, lalu menyalahkan lampu dan menuliskan faedah suatu hadits yang terlintas dalam pikirannya, kemudian tidur lagi dan kembali bangun hingga beliau dalam sebagian malam melakukan perbuatan ini sampai 20 kali.

Imam Abul Wafa bin Aqil al-Hanbali berkata, “Tak halal bagiku menyia-nyiakan sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu untuk bertutur kata, dan penglihatanku tak bisa membaca, aku tetap menjalankan daya pikirku meskipun aku berbaring istirahat. Sehingga aku tak akan bangkit kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan kutulis. Pada umur 80 tahun aku amat gemar kepada ilmu, yang tak kualami ketika aku masih berumur 20 tahunan.”

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Saya kenal seseorang yang sedang sakit demam dan sakit kepala, sedang kitab yang dibacanya tetap berada di atas kepalanya. Apabila sedang siuman maka ia membacanya dan apabila sedang sakit yang sangat, maka ditaruhnya kitab itu di atas kepalanya. Di suatu hari tabib memeriksa sakitnya itu, sedang ia dalam keadaan sedemikian itu, lalu tabib itu berkata, ‘Sungguh tuan jangan melakukan hal ini (membaca), karena akan membahayakan ketahanan tubuh tuan dan dapat berakibat lebih fatal lagi’.”

Syaikh Abdul Adzim bercerita tentang Ishak bin Ibrahim al-Muradi, sebagaimana penuturannya: “Saya belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau, rumah beliau dibangun setelah 12 tahun rumahku berdiri. Setiap kali saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.”

Menjelang wafat Imam ath-Thabari, Ja’far bin Muhammad memanjatkan doa untuknya. Ath-Thabari kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan menulis doa itu. Dia ditanya, “Apa arti semua ini?” Maka dia menjawab, “Sepantasnyalah bagi seorang untuk memungut ilmu hingga menjelang kematiannya.” Beberapa saat kemudian beliau wafat.

Imam al-Izz Izzuddin Abdussalam meninggal dunia pada usia 83 tahun pada saat beliau sedang berusaha menafsirkan ayat al-Quran, “Allahu nuurus samawati wal ardh” dihadapan murid-muridnya. Achdiat K. Miharja penulis novel Atheis, mampu menulis novel setebal 219 berjudul Manifesto Khalifatullah pada saat berusia 94 tahun.

Merekalah orang-orang yang tidak terhalang oleh waktu dan peristiwa. Bagi mereka, menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang banyak adalah keutamaan yang besar dan harus mereka jalani hingga maut datang menjemput. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, berkarya dan meraih prestasi. Berhenti berarti kalah! Karena orang yang berhenti sama saja dengan orang yang mati.

http://www.eramuslim.com/i.php/atk/view/0112.htm

Jihad Intelektual


Kala itu, tahun 1967, tengah terjadi ketegangan antara bangsa Arab dan Israel. Tiba-tiba pada 8 Juni 1967, Israel menyerang Kapal Induk USS Liberty. Serangan diam-diam itu menewaskan 34 perwira muda AS, 171 orang terluka, 821 roket dan senjata mesin AS tenggelam.

Tetapi, reaksi yang muncul adalah tudingan kepada kelompok muslim Arab sebagai pelaku. Amerika dan sekutunya marah. Negara-negara Arab kembali diserang. Israel menang dan bertambah luas wilayah jajahannya. Begitulah James M. Ennes, penulis buku Assault on The Liberty (Random House 1980), salah satu saksi hidup dalam peristiwa itu menuturkan keprihatinannya. Harga kematian para perwira itu adalah sebesar kepentingan mereka yang berada di balik penyerangan itu.

Di tempat terpisah dan di waktu yang berbeda, Timothy Mc Veigh, seorang mantan marinis Amerika, yang mengebom bagian depan gedung federal Alfred P. Murrah, di Oklahoma City, Amerika, dengan sebuah bom truk, pada tahun 1995. 168 orang tewas. Untuk dan atas nama kematian orang-orang itu, seorang muslim tua dan buta bernama Omar Abdurrahman langsung ditangkap. Tetapi enam tahun lebih 55 hari kemudian, sepuluh wakil keluarga para korban itu bisa menyaksikan langsung pelaksanaan hukuman mati atas Mc Veigh, pelaku pemboman yang sesungguhnya.

Dari dua kisah di atas, sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran, bahwa sungguh penting bagi kita, selaku muslim, untuk check and recheck atas setiap berita-berita yang datangnya dari orang-orang yang memusuhi kita. Janganlah kita memandang mereka sebagai orang yang serba hebat, serba bisa, pintar, cerdik, dan puji-pujian lainnya yang sebenarnya terlalu berlebihan. Banyak pengamat mengatakan, bahwa sesungguhnya peradaban Barat sedang menunggu masa kehancurannya. Sekalipun penampilan mereka sangatlah luar biasa; dengan dipersenjatai peralatan canggih dan modern, namun jiwa mereka sangatlah rapuh dan labil.

Penyakit rendah diri (inferiority complex) sangat memandulkan daya pikir kita (jumud). Pada akhirnya kita hanya bisa membebek (muqallid), mengikuti pola pikir mereka; apa yang dikatakan mereka benar atau salah, bunga atau duri, kita telan bulat-bulat. Kita tidak lagi kritis dan memiliki rasa keingintahuan yang besar atas kebenaran yang sesungguhnya. Hal itu tentu saja membuat mental kita mengidap kemalasan yang akut (mental ignorance). Kita menjadi malas membaca, meneliti dan mengamati pelbagai berita yang berseliweran di hadapan kita.

Semua itu menghalangi kita menerima kebenaran sesungguhnya. Karena secara tidak langsung, kita sudah di doktrin (baca: dicuci otaknya) oleh musuh-musuh kita sendiri. Namun karena sudah berlangsung lama, kita tidak menyadarinya. Oleh karena itulah, Allah memberikan petunjuk kepada kita, agar jangan menjadikan orang-orang kafir harbi sebagai wali (pemimpin) karena apa yang mereka katakan susah dipercaya.

Wahai generasi dakwah, bangkitlah untuk menulis; mengungkapkan kebenaran dan menjunjung tinggi keadilan. Betapa banyak ulama-ulama yang dipenjara namun masih menyempatkan diri menulis. Dinding-dinding yang membatasi mereka dengan dunia luar tidak menghalangi mereka untuk terus berkarya. Karya-karya mereka yang ditulis “di dunia yang sempit” itu justru kelak dibaca oleh generasi-generasi selanjutnya. Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari jihad, sebagaimana sebuah hadits menyebutkan, bahwa di akhirat nanti tinta para ulama akan disejajarkan dengan darah para syuhada. Subhanallah!

Wednesday, June 14, 2006

Do'a

Rasulullah s.a.w. selalu mengingat Allah s.w.t. atau berdoa hampir didalam setiap kegiatan yang dilakukannya. Kecuali ditempat-tempat yang memang tidak diperkenankan, seperti w.c./kakus, dll.

Do'a bangun tidur :
"Alhamdulillahillazi ahyanaa ba'da matanaa, wailaihi nusuur"
(Puji syukur kepadamu ya Allah yang telah menghidupkan kami, setelah mati kami,
hanya kepadaMulah kami kembali)

Do'a masuk kamar mandi:
"Allahumma innii a'udzubika minal gubutsi wal gabaiz"
(Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syetan dan iblis)

Do'a keluar kamar mandi:
"Gufrannaka" (ampunilah kami ya Allah)

Do'a sebelum makan:
"Allaumma baariklanaa fiima razaktanaa wa aqina 'azabannar"
(Ya Allah berkahilaah rizki yang Engkau berikan kepada kami,
dan jauhkanlah kami dari api neraka)

Do'a sesudah makan:
"Alhamdulillahillazi ath'amanaa watsaqanaa waja'alanaa minal muslimin"
(Puji syukur kepadamu ya Allah atas makanan yang telah Engkau berikan kepada kami,
dan jadikanlah kami orang yang muslim)

Do'a sebelum tidur :
"Bismikallahumma ahya wa bismika amuut"
(Dengan namamaMu aku tidur ya Allah yang Maha menghidupkan dan Maha mematikan)

Rasulullah membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas masing-masing 2 kali sebelum tidur,
lalu meniupkan ke telapak tangannya, lalu mengusapkan ke seluruh tubuhnya (kecuali kemaluan). Rasulullah selalu shalat wajib berjama'ah di masjid,
dan shalat sunnah dirumah.

Rasulullah selalu melakukan shalat sunnah 2 raka'at :
sebelum subuh, sebelum dan sesudah dzuhur, sesudah magrib, sesudah isya

Rasulullah sering melakukan shalat sunnah dan
shalat tahajud di sepertiga malam terakhir.